Falsafah Kejujuran, dari Kurma hingga Secangkir Susu
- Ustadz H. Taryudi, Lc., M.Ag.
- Ahad, 24 Rabiul Awal 1448 H/ 6 September 2026 M
- 2 menit baca
- 29
Materi kajian tersedia
168-falsafah-kejujuran-dari-kurma-hingga-secangkir-susu.pdf · 212.8 KB
1.
1. Orang tua berperan besar menanamkan kejujuran kepada anak sejak dini
Syekh Muhammad Ghazali berkata,
"وَالْإِسْلَامُ يُوصِي أَنْ تُغْرَسَ فَضِيلَةُ الصِّدْقِ فِي نُفُوسِ الْأَطْفَالِ حَتَّى يَشُبُّوا عَلَيْهَا وَقَدْ أَلِفُوهَا فِي أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ كُلِّهَا"
“Islam menganjurkan agar keutamaan kejujuran ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak sehingga mereka tumbuh dewasa dengan sifat tersebut serta terbiasa menerapkannya dalam seluruh ucapan dan perbuatan mereka.” (Muhammad al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, hlm. 34)
Nasehat Nabi saw di rumah Abdullah bin Umar sebagai pedoman pendidikan kejujuran
دَعَتْني أُمِّي يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا فَقَالَتْ: هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيَهُ؟" قَالَتْ: أُعْطِيهِ تَمْرًا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكَ كَذْبَةٌ"
Artinya: Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: “Ibuku pernah memanggilku suatu hari, sedangkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sedang duduk di rumah kami. Lalu ibuku berkata, "Kemarilah, aku beri kamu sesuatu." Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bertanya kepada beliau, "Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?" Ibuku menjawab, "Aku ingin memberikannya kurma." Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ketahuilah, seandainya engkau tidak memberikannya apa pun, niscaya dicatatkan atasmu sebagai satu kebohongan.” (HR Abu Dawud).
2. Tidak menilai suatu kebohongan sebagai persoalan yang sepele dan ringan
Syekh al-Ghazali berkata,
وَلَوْ أَنَّهُ تَجَاوَزَ عَنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَحَسِبَهَا مِنَ التَّوَافِهِ الْهَيِّنَةِ لَخَشِيَ أَنْ يَكْبَرَ الْأَطْفَالُ وَهُمْ يَعْتَبِرُونَهُ ذَنْبًا صَغِيرًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
“Kalau saja beliau membiarkan hal semacam itu dan menganggapnya sepele, dikhawatirkan anak-anak akan tumbuh dengan memandang remeh kebohongan—padahal di mata Allah itu dosa besar.” (Muhammad al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, 35).
Perhatian Nabi tentang kejujuran pada hal-hal yang terlihat sepele ada pada kisah ini,
كُنْتُ صَاحِبَةَ عَائِشَةَ الَّتِي هَيَّأْتُهَا وَأَدْخَلْتُهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعِي نِسْوَةٌ، فَمَا وَجَدْنَا عِنْدَهُ قِرًى إِلَّا قَدَحًا مِنْ لَبَنٍ، فَشَرِبَ مِنْهُ، ثُمَّ نَاوَلَهُ عَائِشَةَ، فَاسْتَحْيَتِ الْجَارِيَةُ، فَقُلْنَا: لَا تَرُدِّي يَدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْهُ. فَأَخَذَتْ مِنْهُ عَلَى حَيَاءٍ فَشَرِبَتْ. ثُمَّ قَالَ: نَاوِلِي صَوَاحِبَكِ. فَقُلْنَا: لَا نَشْتَهِيهِ. فَقَالَ: لَا تَجْمَعْنَ جُوعًا وَكَذِبًا. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنْ قَالَتْ إِحْدَانَا لِشَيْءٍ تَشْتَهِيهِ لَا تَشْتَهِيهِ أَيُعَدُّ ذَلِكَ كَذِبًا؟ قَالَ: إِنَّ الْكَذِبَ يُكْتَبُ حَتَّى تُكْتَبَ الْكُذَيْبَةُ كُذَيْبَةً.
Artinya: Dari Aisyah binti Umais berkata: Aku adalah wanita yang mengurus Aisyah—yang meriasnya dan mengantarkannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam—beserta beberapa wanita lainnya. Kami tidak mendapati sesuatu pun untuk menjamu di tempat beliau selain secangkir susu. Beliau meminumnya, lalu menyerahkannya kepada Aisyah. Gadis itu merasa malu, lalu kami berkata, "Jangan tolak tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terimalah darinya." Ia pun mengambilnya dengan rasa malu lalu meminumnya. Kemudian beliau bersabda, "Berikanlah kepada kawan-kawanmu." Namun kami berkata, "Kami tidak menginginkannya." Beliau lalu bersabda, "Jangan kalian kumpulkan rasa lapar dan kebohongan." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, jika salah seorang di antara kami berkata terhadap sesuatu yang sebenarnya ia inginkan dengan ucapan 'Aku tidak menginginkannya', apakah itu dianggap sebagai kebohongan?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya kebohongan itu tetap dicatat, hingga kebohongan kecil pun akan dicatat sebagai kebohongan." (HR Ahmad).